Kamis, 08 Desember 2011
Mengeskpor Gambar AutoCAD ke Microsoft Word
dipergunakan perintah COPYCLIP dari dalam AutoCAD. Cara menggunakan perintah
COPYCLIP adalah Anda ketik pada baris perintah command line, kemudian Anda akan
diminta untuk memilih obyek yang akan dipindahkan, setelah selesai memilih, maka
obyek data gambar tersebut akan disimpan di dalam clipboard Windows . Anda dapat
menampilkan kembali clipboard Windows ini pada progra aplikasi yang membutuhkan
gambar tersebut, yaitu dengan jalam mem-paste-nya. Anda dapat mengikuti contoh
berikut untuk memindahkan gambar AutoCAD ke dalam dokumen Microsoft Word 2000.
Contoh:
1. Di dalam AutoCAD, siapkan gambar, kemudian ikuti instruksi berikut.
Command: COPYCLIP
Select objects: (pilih obyek yang akan dipinda h)
Select objects: (Enter)
2. Buka program Word kesayangan Anda dan buka juga file dokumen yang akan
diselipkan gambar.
3. Pindahkan posisi cursor pada daerah di mana gambar akan diselipkan.
4. Setelah itu tekan tombol Shift+Insert (tekan tombol Shift dibarengi tombol Insert).
Atau Anda dapat juga mengklik menu Edit kemudian Paste atau juga dapat langsung
dengan kombinasi Ctrl+V (tekan tombol Ctrl dibarengi tombol V).
Cara diatas memang sangat mudah sekali untuk dilakukan dan kebiasaan kita sehari-hari
dalam proses ekspor. Tetapi proses cropping akan sulit dilakukan dan oleh sebab itu, saya
akan mengajari Anda teknik selanjutnya dengan cara export file menggunakan tipe file.
Contoh:
1. Di dalam AutoCAD, siapkan gambar, kemudian ikuti instruksi berikut.
Command: EXPORT
2. Buka program Word kesayangan Anda dan buka juga file dokumen yang akan
diselipkan gambar. Disini saya mencontohkan pada Word 2007, walaupun Anda masih
menggunakan Word versi dibawah caranya tetap sama.
3. Pindahkan posisi cursor pada daerah di mana gambar akan diselipkan.
4. Pada menu Ribbon pilih Insert kemuidian Picture
Contoh Lain yaitu dengan cara ( Untuk ACAD 2007 )
1.Buka program Autocad
2.Persiapkan gambar yang akan di pindah ke word
3.Pilih FILE di pojok kiri atas,terus pilih Exsport
4.Ganti type file menjadi metafile (*wmf) klik ok
5.selanjutnya blok gambar yang akan dipindah ke word (jangan lupa file di simpan di folder mna)
6.klik enter
7.buka file yang sudah di simpan ,,terus lanjutkan dengan meng crop gambar tersebut sesuai bentuk gambar
8. lanjutkan untuk mencopy gambar yang sudah di copy terus Paste ke MS
,semoga bisa bermanfaat ,,,,
PEMANFAATAN KAYU UNTUK KOMPONEN BANGUNAN
meningkat. Demikian pula untuk keperluan bahan bangunan. Kayu-kayu yang beredar di
pasaran sebagian besar berasal dari hutan alam yang dikelompokkan atas jenis-jensi
komersial seperti kamper, bangkirai, keruing, kayu campuran (borneo). Karena
kecepatan antara pemanenan dan penanaman tidak seimbang, menyebabkan pasokan
kayu dari hutan alam kian menurun baik volume maupun mutunya yang mengakibatkan
harga kayu menjadi relatif mahal.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengatasi keterbatasan jumlah pasokan
kayu hutan antara lain dengan mengalihkan perhatian kepada jenis-jenis kayu yang
Sebagai bahan konstruksi bangunan, kayu sudah dikenal dan banyak dipakai
sebelum orang mengenal beton dan baja. Dalam pemakaiannya kayu tersebut harus
memenuhi syarat : mampu menahan bermacam-macam beban yang bekerja dengan
aman dalam jangka waktu yang direncanakan; mempunyai ketahanan dan keawetan yang
memadai melebihi umur pakainya; serta mempunyai ukuran penampang dan panjang
yang sesuai dengan pemakainnya dalam konstruksi.
Kayu untuk bahan bangunan berasal dari hutan alam, hutan tanaman dan
tanaman rakyat baik dari hutan rakyat maupun dari kebun. Saat ini ketersediaan kayu
dari hutan alam semakin menurun, sementara hasil kayu dari hutan tanaman belum
dapat mencukupi kenaikan kebutuhan kayu yang semakin meningkat dengan
pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi. Beberapa jenis kayu tanaman rakyat
ternyata mempunyai sifat yang sesuai untuk digunakan sebagai bahan bangunan
Dalam penggunaannya, kayu dipengaruhi oleh sifat-sifatnya, yaitu sifat fisis,
mekanis, anatomis, kimia maupun sifat lainnya. Sifat tersebut dipengaruhi oleh jenis
kayu, umur pohon, letak kayu dalam pohon, perbedaan tempat tumbuh serta faktor
lainnya yang mempengaruhi pertumbuhannya (Brown et al., 1952). Sebagai bahan
bangunan, maka kayu harus memenuhi syarat tertentu seperti kerapatan, kembang susut,
kekuatan dan keawetannya (Surjokusumo, 1982 dan Anonim, 2002)
Bahan konstruksi adalah bahan yang dipergunakan untuk mendukung beban
dalam arti memerlukan analisa/perhitungan yang cukup cermat, dan untuk kayu
mencakup bahan-bahan untuk kuda-kuda, jembatan, tiang pancang dan sebagainya.
Wirjomartono (1977) menunjukkan bahwa penggunaan kuda-kuda kayu dapat
menghemat biaya sekitar 40-50% dibandingkan jika menggunakan baja. Diperkirakan
sekitar 80% konsumsi kayu diperuntukkan pada bangunan rumah/gedung, sedangkan
yang 20% untuk perancah, jembatan, dermaga dan lain-lain. Penggunaan kayu untuk
pembangunan jembatan dan tiang pancang tidak lebih dari 5%. Jika kita akan bicara
tentang kayu sebagai bahan struktur bangunan, maka yang harus diperhatikan antara lain
adalah kekuatan dan keawetan kayu, karena tujuan umum para pemilik bangunan
maupun perencana adalah membangun/mempunyai gedung yang aman dan kuat
konstruksinya, biaya konstruksinya murah, umur bangunan cukup lama serta biaya
pemeliharaannya ringan.
KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN STRUKTUR ATAP

Struktur adalah susunan atau pengaturan bagian-bagian gedung yang menerima beban atau konstruksi utama dari bangunan tanpa mempedulikan apakah konstruksi tersebut kelihatan atau tidak kelihatan.
Struktur bangunan umumnya terdiri atas konstruksi pondasi, dinding, kolom, pelat lantai, dan kuda-kuda atap. Kuda-kuda atap adalah konstruksi (salah satu contoh; kayu) yang terdiri dari balok melintang (yang menerima gaya tarik), balok sebagai penopang atau tiang (yang menerima gaya tekan) guna menyangga dari gording dan kasau serta pelapis atap.
Walaupun atap itu ringan, pengaruh luar terhadap konstruksi dan penutupnya baik terhadap suhu (sinar matahari), cuaca (air hujan dan kelembaban udara), serta keamanan terhahap gaya horizontal (angin dan gempa) dan kebakaran harus tetap dijamin. ada konstruksi atap terdapat bahan bangunan utama seperti salah satu contohnya; kuda-kuda kayu. sedangkan sebagai bahan penutup adalah genting flam, genting pres, sirap, seng gelombang, serta genting atau pelat semen berserat. Konstruksi yang dipilih maupun bahan penutup akan mempengaruhi atau menentukan kemiringan atap,
Kayu sampai saat ini masih banyak dicari dan dibutuhkan orang. Pilihan atas suatu
bahan bangunan tergantung dari sifat-sifat teknis, ekonomis dan dari keindahan. Jika
pemilihan kayu sebagai bahan bangunan maka perlu diketahui sifat-sifat kayu, dalam hal ini
kayu akan digunakan sebagai material pembuatan kuda-kuda konstruksi atap.
Dari segi manfaatnya bagi kehidupan manusia, kayu dinilai mempunyai sifat-sifat umum, yaitu sifat yang menyebabkan kayu selalu dibutuhkan. Sifat-sifat utama tersebut antara lain ;
- Kayu merupakan sumber kekayaan alam bisa digunakan sebagai bahan baku untuk konstruksi atap.
- Kayu merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang lain. Dengan kemajuan teknologi, kayu sebagai bahan mentah mudah diproses menjadi barang lain
- Kayu tidak mempunyai sifat-sifat spesifik yang tidak bisa ditiru oleh bahan-bahan lain.misalnya kayu mempunyai sifat elastis, ulet, mempunyai ketahanan terhadap pembebanan yang tegak lurus dengan seratnya atau sejajar seratnya dan masih ada sifat-sifat lain lagi. Sifat-sifat seperti ini tidak dipunyai oleh bahan–bahan baja, beton, atau bahan bahan lain yang bisa dibuat oleh manusia.
karena tradisi tukang kayu. Sifat-sifat yang menguntungkan itu ialah :
- - Bobotnya yang ringan, sehingga menentukan beban pada konstruksi atap.
- Kekuatannya terhadap gaya tarik, gaya tekan dan momen lengkung.
- Harganya yang hemat dan murah, kemungkinan mendapatkan dan mengangkutnya dengan cepat.
- Ringan dan sekaligus tepatnya dalam pengerjaan dengan mesin dan alat sederhana.
- Dalam beberapa keadaan, kelemahan kayu sebagai bahan bangunan antara lain Mudahnya terbakar, Kecenderungannya berubah bentuk (mengembang, menyusut, melengkung, dan retak-retak karena pengeringan), Mudahnya kena pembusukan dan serangan hama.
kelemahan ini memalui perawatan dan pengerjaan kayu secara khusus. Untuk mengenal dan menentukan suatu jenis kayu, dapat dilihat dengan memperhatikan sifat-sifat kayu seperti kulit, warna kayu teras, arah serat dan sebagainya. Dan jenis kayu yang biasa digunakan untuk
konstruksi atap kayu adalah jenis kayu kamfer, jati, bengkirai, keruing.
- Konstruksi kuda-kuda kayu
Konstruksi kuda-kuda kayu umumnya merupakan suatu konstruksi penyanggah atau
pendukung utama dari atap. Konstruksi kudakuda kayu mempunyai syarat tidak boleh
berubah bentuk, terutama jika sudah berfungsi. Beban-beban atap yang harus diterima
konstruksi kuda-kuda kayu melalui gordinggording yang sedapat mungkin disalurkan /
diterima tepat pada titik buhul. Dengan demikian rangka batang dapat bekerja sesuai
dengan perhitungan besarnya gaya batang dan juga batang tersebut tidak terjadi tegangan
lentur melainkan hanya terdapat tegangan normal tekan dan tarik.
- Struktur Rangka Atap Kuda-Kuda Kayu
Kuda-kuda kayu adalah balok kayu dengan ukuran tertentu yang dirakit dan dibentuk
sehingga membentuk segitiga sama kaki. Kuda-kuda diletakkan pada beton ring balk
bersudut tertentu dengan fungsi sebagai pada sudut bangunan ke dalam. Titik pertemuan jurai dan bubungan, tempat bertemunya tiga bidang atap atau lebih. Bubungan penghubung miring, garis jurai pada bidang-bidang atap yang bertemu. Terjadi pada bangunan, yang tinggi bubungannya berbeda letaknya. Menghubungkan dua titik pertemuan jurai dan bubungan.
pembentuk model atap bangunan, tumpuan balok gording, rangka atap kaso, reng dan atap
genteng. Struktur rangka dibuat dari kayu atau sebagai struktur atap primer yang menyalurkan beban atap maupun beban angin kepada tumpuan (pelat dinding atau kolom masing-masing)
eprints.undip.ac.id/18499/1/2.pdf
Rabu, 07 Desember 2011
Pencegahan Korosi Pada Jembatan Baja
Jembatan baja mempunyai beberapa keunggulan terhadap jembatan beton. Jembatanbaja lebih ringan, lebih mudah dibuat, kekuatannya dapat lebih dipercaya. Berbagai hal ini
menjadikan jembatan baja lebih disukai, apalagi jembatan baja lebih indah dalam bentuk
serta warnanya.
Kebanyakan jembatan baja dilindungi terhadap korosi dengan pengecatan secara
berkala. Pengecatan ulang pada jembatan dengan laju korosi sedang biasanya dilakukan
setiap lima tahun.
Setelah perang dunia II banyak cat resin sintetis yang diperkenalkan. Cat dari jenis ini
jauh lebih tahan korosi bila dibandingkan dengan cat konvensional. Namun demikian tingkat
keawetannya masih sangat dipengaruhi oleh kesempurnaan pembersihan permukaan sebelum
pengecatan. Pemakaian cat terbaik sekalipun, jika tidak disertai pembersihan permukaan
sebagaimana mestinya, hasilnya akan sangat mengecewakan.Tiga puluh tahun terakhir ini teknologi cat mengalami perkembangan cukup pesat,
sesuai dengan tuntutan yaitu awet, menarik, perawatan minimal, serta ekonomis. Sistem
tertentu memakai lapisan setebal 200 mikron atau lebih, dimaksudkan untuk memperpanjang
interval pengecatan ulang 10 sampai 15 tahun. Sebagai contoh, pemakaian cat yang
mengandung zink anorganik dengan film tebal dari cat phenolic resin, cat karet klorinat, atau
cat polyurethene resin. Penyemprotan zink-metal pada cat zink anorganik juga dikenal
sebagai prime coat.
Jika pengecatan tidak diperlukan, keuntungan secara ekonomis menjadi tak ternilai.
Suatu kenyataan pengecatan dapat dihindarkan dengan penggunaan baja tahan karat dengan
paduan rendah (low-alloy weathering steel), seperti tembaga )Cu), pospor (P), krom (Cr),
nikel (Ni), aluminium (Al), molybdenum (Mo), titanium (Ti). Salah satu atau beberapa aloi
tersebut dicampurkan pada baja. Setelah beberapa tahun, reaksi antara aloi dengan oksigen
yang terdapat di udara secara bebas, maka akan terbentuk suatu lapis tipis karat yang
menutup permukaan baja. Lapis karat tipis ini menghambat terjadinya korosi lebih lanjut.
Berbeda dengan karat pada umumnya, maka karat pada weathering steel ini berwarna coklat
tua dan menambah keindahan.
Sifat Metalurgi Baja
(carbon steel) dengan kuat tarik sekitar 400 Mpa, sedang baja dengan kuat tarik lebih dari
500 MPa sampai 1000 MPa disebut dengan baja kekuatan tinggi (high strength steel). Baja
kekuatan tinggi dengan kekuatan 500—600 MPa dibuat dengan paduan yang tepat ke dalam
baja. Baja kekuatan tinggi dengan kuat tarik 600 MPa atau lebih, dibuat dengan bahan
paduan disertai perlakuan panas (heat treatment).
Dalam banyak hal, fabrikasi struktur baja dilakukan dengan las, agar tidak terjadi
perlemahan akibat lubang baut. Oleh karena itu baja struktural tidak hanya dituntut
berkekuatan tinggi, tetapi juga harus dapat dilas. Sayangnya semakin tinggi kekuatan baja,
semakin sulit pengelasan dilakukan.
Beberapa pengaruh komponen baja terhadap sifat mekanis dan kemudahan pengelasan
dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Karbon (C) adalah komponen kimia pokok yang menentukan sifat baja. Semakin tinggi
kadar karbon di dalam baja, semakin tinggi kuat tarik serta tegangan leleh, tetapi koefisien
muai bahan turun, dan baja semaikn getas. Karbon mempunyai pengaruh yang paling
dominan terhadap sifat mampu las. Semakin tinggi kadar karbon menjadikan sifat mampu
las turun.
b. Mangan (Mn) menaikkan kekuatan dan kekerasan baja dan sedikit menurunkan koefisien
muai bahan, dan melawan terhadap kegetasan yang ditimbulkan oleh sulfur.
c. Silikon (Si) meningkatkan tegangan leleh, tetapi mengakibatkan kegetasan jika kadar
terlalu tinggi (2% atau lebih).
d. Pospor (P) dan sulfur (S) meningkatkan kegetasan baja sesuai dengan peningkatan
kadarnya.
Keduanya cenderung memisah keluar (segregate) dari baja.
Faktor utama pada kemudahan pengelasan adalah nilai ekivalensi karbon Ceq dari
komponen kimia dalam baja. Baja berkekuatan tinggi cenderung mempunyai nilai ekivalensi
karbon tinggi. Jika Ceq melampaui batas tertentu (Ceq=0,39—0,43), merosotnya sifat mampu
las dapat diatasi dengan pra pemanasan pada daerah yang akan dilas.
Baja Sebagai Bahan Bangunan
Baja adalah suatu jenis bahan bangunan yang berdasarkan pertimbangan ekonomi,
sifat, dan kekuatannya, cocok untuk pemikul beban. Oleh karena itu baja banyak dipakai
sebagai bahan struktur, misalnya untuk rangka utama bangunan bertingkat sebagai kolom
dan balok, sistem penyangga atap dengan bentangan panjang seperti gedung olahraga,
hanggar, menara antena, jembatan, penahan tanah, fondasi tiang pancang, bangunan
pelabuhan, struktur lepas pantai, dinding perkuatan pada reklamasi pantai, tangki-tangki
minyak, pipa penyaluran minyak, air, atau gas.
Beberapa keunggulan baja sebagai bahan struktur dapat diuraikan sebagai berikut.
Batang struktur dari baja mempunyai ukuran tampang yang lebih kecil daripada batang
struktur dengan bahan lain, karena kekuatan baja jauh lebih tinggi daripada beton maupun
kayu. Kekuatan yang tinggi ini terdistribusi secara merata. The Kozai Club (1983)
menyatakan kekuatan baja bervariasi dari 300 Mpa sampai 2000 Mpa. Kekuatan yang
tinggi ini mengakibatkan struktur yang terbuat dari baja lebih ringan daripada struktur
dengan bahan lain. Dengan demikian kebutuhan fondasi juga lebih kecil. Selain itu baja
mempunyai sifat mudah dibentuk. Struktur dari baja dapat dibongkar untuk kemudian
dipasang kembali, sehingga elemen struktur baja dapat dipakai berulang-ulang dalam
berbagai bentuk.
Fabrikasi struktur baja dapat dilakukan di bengkel-bengkel maupun pabrik dengan
mesin-mesin yang cukup terkendali memakai komputer, sehingga akurasi dan kecepatan
produksi yang baik dapat dicapai. Pengangkutan elemen-elemen struktur baja dari bengkel
ke lokasi pembangunan mudah dilakukan. Sangat jarang dijumpai kerusakan elemen struktur
baja sebagai akibat pengangkutan. Dua hal ini memberi keuntungan waktu pelaksanaan
bangunan menjadi singkat. Waktu pelaksanaan yang singkat ini secara teknis sangat
diperlukan dalam pembangunan struktur lepas pantai serta pelabuhan, sedang pada bangunan
gedung yang komersial dari sudut pandang ekonomi cukup menguntungkan, karena
bangunan yang dibuat dapat segera menghasilkan uang.
Penyambungan elemen struktur baja dapat dilakukan secara permanen memakai las,
.tanpa lubang-lubang perlemahan, sehinggga kekuatan sambungan tidak banyak berubah
dari kekuatan batang aslinya. Sekalipun kalau ditinjau dari tegangan residu, sebagai akibat
pendinginan yang tidak bersamaan serta pengerjaan secara dingin, sebenarnya pada baja
tersebut timbul tegangan residu. Pekerjaan las yang kurang baik dapat mengakibatkan
tegangan residu yang cukup besar yaitu sekitar 45% dari tegangan leleh baja. Hal ini berarti
bahwa sebelum dibebani, elemen struktur sudah mempunyai tegangan, sehingga kemampuan
untuk memikul beban menjadi berkurang.
Baja sebagai bahan struktur juga mempunyai beberapa kelemahan. Salah satu kelemahan
baja adalah kemungkinan terjadinya korosi, yang memperlemah struktur, mengurangi
keindahan bangunan, dan memerlukan beaya perawatan cukup besar secara periodik.
Matsushima dan Tamada (1989) menyatakan bahwa pemeliharaan jembatan dengan
pengecatan setiap 5 tahun akan memakan biaya 10 persen dari harga bangunan. Hal ini
berarti bahwa biaya 50 tahun pemeliharaan akan sama dengan biaya pembuatan jembatan
baru.
Kekuatan baja sangat dipengaruhi oleh temperatur. Pada temperatur tinggi kekuatan
baja sangat rendah, sehingga pada saat terjadi kebakaran bangunan dapat runtuh sekalipun
tegangan yang terjadi hanya rendah. Kendala berikutnya, karena kekuatan baja sangat tinggi
maka banyak dijumpai batang-batang struktur yang langsing. Oleh karena itu bahaya tekuk
(buckling) mudah terjadi.
Sabtu, 03 Desember 2011
PILE CAP
Studi pelaksanaan ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pekerjaan penggalian tanah, pembongkaran ujung tiang pancang dan pekerjaan lantai kerja, mengetahui dan memahami proses pelaksanaan pekerjaan pile cap, dan memahami proses pembuatan, pemasangan dan pembongkaran bekisting pile cap.Pile cap di gunakan sebagai pondasi untuk mengikat tiang pancangyang sudah terpasang dengan struktur di atasnya yaitu te beam dan slab
Tahapan-tahapan pengerjaan pile cap, yaitu :
1. Setelah dilakukan penggalian tanah, dilakukan pemotongan pile sesuai elevasi pile cap yang diinginkan.
2. Tanah disekeliling pile digali lagi sesuai dengan bentuk pile cap yang telah direncanakan.
3. Pada pile dilakukan pembobokan pada bagian betonnya hingga tersisa tulangan besinya yang kemudian dijadikan sebagai stek pondasi sebagai pengikat dengan pile cap. Pembobokan hanya sampai elevasi dasar pile cap saja.
4. Melakukan pemasangan bekisting dari batako disekeliling daerah pile. Penggunaan batako ini dipilih karena batako cukup kuat untuk menahan beban sebagai bekisting serta cukup murah untuk pada akhirnya ditimbun bersama saat pengecoran.
5. Sebagai landasan pile cap, dibuat lantai kerja terlebih dahulu dengan ketebalan 10 cm.
6. Melakukan pemasangan tulangan-tulangan pile cap yang meliputi tulangan utama atas dan bawah, persiapan stek pondasi, pemasangan kaki ayam, beton decking dan pemasangan stek pile cap sebagai penghubung menuju kolom.
7. Sebelum dilakukan pengecoran, tanah disekitar bekisting ditimbun kembali untuk menahan beban pengecoran dan meratakan kondisi tanah seperti semula.
8. Setelah semua persiapan sudah matang, maka dapat dilakukan pengecoran pada pile cap.
Metode Pelaksanaan :
1. Tahap pertama, dilakukan pengecoran dengan bucket dan pipa tremie untuk daerah stage 1, lalu diratakan dengan menggunakan vibrator.
2. Tahap keduan beton di curing dan besi tulanagan dibersihkan dari kotoran dan debu.
3. Tahap ketiga, beton stage 1 yang telah kering diberikan bonding agent pada pemukaannya untuk pengecoran stage 2 yaitu pengecoran pelat basement. Bonding agent in berfungsi sebagai pengikat beton lama dengan beton baru.
4. Tahap Keempat, pengecoran stage 2 dengan menggunakan concrete pump untuk pelat basement. Pada pengecoran ini menggunakan beton yang dicampur dengan waterproofing intergral (Conplast X421M)
Kamis, 07 Juli 2011
Sistem Irigasi
Sebagian besar sumber air untuk irigasi adalah air permukaan yang berasal dari air hujan dan pencairan salju. Air ini secara alami mengalir di sungai-sungai, yang membawanya ke laut. Jika dimanfaatkan untuk irigasi, sungai dibendung dan dialirkan melalui saluran-saluran buatan ke daerah pertanian, atau air terlebih dahulu ditampung di dalam waduk yang selanjutnya dialirkan secara teratur melalui jaringan irigasi ke daerah pertanian. Adapun faktor-faktor yang menentukan pemilihan metoda pemberian air irigasi adalah : distribusi musiman hujan, kemiringan lereng dan bentuk permukaan lahan, suplay air, rotasi tanaman dan permeabilitas tanah lapisan bawah. Metoda pendistribusian air irigasi dapat dibagi kedalam :
1) Irigasi Permukaan
2) Irigasi Lapisan Bawah
3) Sprinkler
4) Drip atau Trickle
Dari segi konstruksi jaringan irigasinya, mengklasifikasikan sistem irigasi menjadi empat jenis yaitu :
1) Irigasi Sederhana
Adalah sistem irigasi yang sistem konstruksinya dilakukan dengan sederhana, tidak dilengkapi dengan pintu pengatur dan alat pengukur sehingga air irigasinya tidak teratur dan tidak terukur, sehingga efisiensinya rendah.
2) Irigasi Setengah Teknis
Adalah suatu sistem irigasi dengan konstruksi pintu pengatur dan alat pengukur pada bangunan pengambilan (head work) saja, sehingga air hanya teratur dan terukur pada bangunan pengambilan saja dengan demikian efisiensinya sedang.
3) Irigasi Teknis
Adalah suatu sistem irigasi yang dilengkapi dengan alat pengatur dan pengukur air pada bangunan pengambilan, bangunan bagi dan bangunan sadap sehingga air terukur dan teratur sampai bangunan bagi dan sadap, diharapkan efisiensinya tinggi.
4) Irigasi Teknis Maju
Adalah suatu sistem irigasi yang airnya dapat diatur dan terukur pada seluruh jaringan dan diharapakan efisiensinya tinggi sekali.
Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya. Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
Daerah aliran sungai (DAS)
1) Daerah aliran sungai (DAS) dengan pola bulu burung, di daerah aliran sungai ini selain terdapat sungai utama, tidak jauh dari sungai utama tersebut, disebelah kirinya dan kanan terdapat pola-pola sungai kecil atau anak-anak sungai.
2) Daerah aliran sungai (DAS) dengan pola radial atau melebar, didaerah aliran sungai ini pun terdapat sungai utama (besar dengan beberapa anak sungainya), hanya anak-anak sungainya melingkar dan akan bertemu pada satu titik daerah.
3) Daerah aliran sungai (DAS) dengan pola paralel atau sejajar , daerah aliran sungai ini memiliki 2 jalur daerah aliran, yang memang paralel, yang dibagian hilir keduanya bersatu membentuk sungai besar
(Siregar, 1981).
Rabu, 06 Juli 2011
Istilah Pada Pengembangan Sumber Daya Air
Adalah bangunan air yang terletak disaluran primer dan sekunder pada suatu titik cabang dan berfungsi untuk membagi aliran antara dua saluran atau lebih
Bangunan Bagi Sadap:
Adalah bangunan bagi yang mempunyai pintu sadap ke petak tersier.
Bangunan Kantong Lumpur :
Adalah bangunan yang berada di pangkal saluran induk, yang berfungsi untuk menampung dan mengendapkan lumpur,pasir, dan kerikil, supaya bahan endapan tersebut tidak terbawa saluran di hilirnya, Bangunan dibilas pada waktu-waktu tertentu.
Bangunan Pelimpah :
Adalah bangunan bangunan air yang terletak dihulu bangunan talang,siphon dan lain-lain,untuk keamanan jaringan. Bangunan bekerja otomatis dengan naiknya muka air
Bangunan Pembilas :
Adalah bangunan yang berfungsi untuk membilas sedimen pada kantong lumpur dan atau saluran tersier penerima
Bangunan Pengatur Muka Air :
Adalah bangunan yang berfungsi mengatur/mengontrol ketinggian muka air di saluran primer dan skunder sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan kepada bangunan sadap tersier.
Bangunan Sadap :
Adalah bangunan air yang berfungsi mengalirkan air dari saluran primer atau skunder ke saluran tersier penerima
Bangunan Skunder :
Adalah saluran yang membawa air dari saluran primer ke petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran skunder tersebut. Batas ujung saluran adalah pada bangunan sadap terakhir
Bangunan Suplesi :
Adalah Bangunan yang berfungsi mengalirkan air dari saluran suplesi ke saluran pembawa atau ke sungai
Bangunan Terjun :
Adalah bangunan air yang berfungsi menurunkan muka air dan tinggi energi yang dipusatkan di satu tempat. Bangunan terjun ini bisa memiliki terjun tegak atau terjun miring
Bangunan Ukur Debit :
Adalah bangunan ukur yang berfungsi untuk mengukur volume air persatuan waktu (m3/det atau 1/det). jenis bangunan ukur debit yang diinventarisasi adalah :
- Bangunan Ukur Ambang lebar
- Bangunan Ukur Romijin
- Bangunan Ukur Crump de Gruyter
- Bangunan Ukur Cipoletti
- Bangunan Ukur Parshal Flume
- Venturi Meter
- Bangunan Ukur Thomson
- DLL
Bendung Gerak :
Adalah bangunan yang sebagian besar konstruksinya terdiri dari pintu yang dapat digerakan untuk mengatur ketinggian muka air di sungai
Bendung Tetap :
Adalah bangunan yang dipergunakan untuk meninggikan muka air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier, Ditinjau dari bahan yang dipergunakan, maka bendung tetap dapat dibagi menjadi :
- Bendung tetap permanen (misalnya beronjong dari beton, pasangan batu, beronjong dengan mantel)
- Bendung tetap semi permanen (Misalnya dari Beton, pasangan batu, beronjong dengan mantel)
- Bendung tetap tidak Permanen (Misalnya dari kayu, tumpukan batu)
Daerah Irigasi (D.I) adalah kesatuan wilayah atau hamparan tanah yang mendapatkan air dari satu jaringan irigasi, terdiri dari :
- Areal (hamparan tanah yang akan diberi air)
- Bangunan Utama jaringan irigasi (saluran dan bangunannya)
Daerah Pengaliran Sungai :
Adalah suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah dimana air meresap dan atau mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan
Debit adalah
- Debit rencana maksimum dalam periode 1 tahun diambil dari perhitungan perencanaan debit maksimum yang masuk lewat intake dibangunan utama dan dari suplesi
- Debit Kenyataan maksimum dalam periode 1 tahun diambil dari pengukuran dilapangan terhadap debit maksimum yang masuk melalui pintu intake dibangunan utama dan dari suplesi. Cara pengukuran debit bisa dilakukan dari perhitungan kecepatan air dengan mempergunakan pelampung
Gorong-gorong pembawa :
Adalah bangunan air yang dibangun ditempat-tempat dimana saluran pembawa lewat di bawah bangunan (jalan, rel kereta api dan lain-lain). Aliran air di gorong-gorong umumnya aliran bebas.
Gorong-gorong pembuang
Adalah : bangunan air yang dibangun ditempat-tempat dimana saluran pembuang lewat dibawah bangunan (jalan, rel kereta api dan lain-lain)
Got Miring :
Adalah bangunan air yang berfungsi mengalirkan air yang dibuat jika trase saluran melewati medan dengan kemiringan yang tajam dengan jumlah perbedaan tinggi energi yang besar. Got Miring berupa potongan saluran yang diberi pasangan (lining) dan umumnya mengikuti medan alamiah
Jalan Inspeksi :
Adalah jalan yang digunakan untuk keperluan operasi dan pemeliharaan jaringan Irigasi
Jalan Irigasi sederhana :
jaringan irigasi yang bangunan-bangunan tidak dilengkapi dengan alat pengukur pembagian air dan alat ukur, sehingga air irigasi tidak dapat diatur dan tidak dapat diukur dan umumnya bangunannya mempunyai konstruksi sesuai permanent/tidak permanent. Dalam penentuan tingkatan jaringan irigasi, ditentukan yang tingkatannya paling dominan.
Jaringan irigasi semi teknis :
Adalah jaringan irigasi yang bangunan-bangunan dilengkapi dengan alat pengatur pembagian air irigasi dapat diatur tetapi tetapi tidak dapat diukur.
Jaringan Irigasi Teknis:
Adalah jaringan irigasi yang bangunan pengambilan dan bangunan bagi/sadap dilengkapi dengan alat pengatur pembagian air dan alat ukur, sehingga air air irigasi yang dialirkan dapat diatur dan diukur
Jaringan Irigasi :
Adalah saluran bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari :penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaan air irigasi beserta pembuanganya. Disamping itu jalan inspeksi juga merupakan bagiab dari jaringan irigasi.
Jembatan :
Adalah bangunan untuk menghubungkan jalan-jalan inspeksi diseberang saluran irigasi/pembuang atau untuk menghubungkan jalan inspeksi dengan jalan umum atau untuk penyebrangan lalu lintas (Kendaraan, manussia dan hewan)
Kincir Air :
Adalah alat untuk menaikkan air sampai elevasi yang diperlukan, dengan kincir yang digerakkan oleh aliran sungai
Lahan Alih Fungsi :
Adalah bagian dari luas rencana (Sawah dan belum sawah) yang tidak misalnya berupa: pemukiman, sekolah atau pabrik. Lahan Alih fungsi terdiri dari :
- Alih fungsi dari sawah adalah : Bagian dari luas rencana yang berbentuk sawah tetapi telah berubah fungsinya secara permanen, misalnya menjadi permukiman, sekolah, perkantoran, pabrik
- Alih Fungsi Dari lahan belum Sawah adalah : Bagian dari luas rencana yang belum berbentuk sawah (misalnya merupakan semak dan tegalan) tetapi telah berubah fungsinya secara permanen, misalnya menjadi permukiman, sekolah, perkantoran, pabrik, dll
Lahan Dapat dijadikan sawah (belum sawah) :
Adalah bagian dari luas potensial yang dapat dijadikan sawah, yang sekarang masih berbentuk hutan semak-semak, padi ladang, dikurangi luas potensial. Pengertian tersebut dilihat dari aspek jaringannya, bukan aspek lahannya
Luas Belum Potensial :
bagian dari luas rencana jaringan utamanya (saluran primer dan skunder) belum selesai dibangun atau merupakan sisa dari luas rencana dikurangi luas potensial. (pengertian tersebut dilihat dari aspek jaringannya, bukan aspek lahannya.
Luas Potensial :
Adalah bagian dari luas rencana yang jaringan utamanya (saluran primer dan skunder) telah selesai dibangun (Pengertian tersebut dilihat dari aspek jaringannya, bukan aspek lahannya.
Luas Rencana (Luas Baku) :
Adalah luas bersih dari suatu daerah irigasi, yang berdasarkan perencanaan teknis dapat di airi oleh jaringan irigasi
Pengambilan Bebas :
Adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai yang mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur tinggi muka air di sungai. Termasuk sebagai bagian dari pengambilan bebas ialah bangunan pengarah arus. Di Tinjau dari bahan yang dipergunakan, maka pengambilan bebas dapat di bagi pula menjadi tiga jenis seperti pada bendung tetap di atas.
Petak Tersier belum dikembangkan :
Adalah petak tersier dimana jaringan tersiernya belum dibangun berdasarkan desain teknis. Termasuk dalam luas petak tersier yan gbelum dikembangkan adalah petak tersier jaringan tersiernya dibangun oleh masyarakat Desa.
Petak Tersier sudah dikembangkan :
Adalah petak tersier dimana jaringan tersiernya sudah dibangun berdasarkan desain teknis. Dalam pengertian luas petak tersier yang sudah sudah dikembangkan sudah termasuk juga.
- Petak tersier yang jaringan tersiernya sudah di bangun walaupun tidak/belum berfungsi
- Petak tersier yang jaringan tersiernya sudah di bangun tetapi sudah rusak
Pintu klep :
Adalah Bangunan air di saluran pembuang yang berfungsi untuk mencegah masuknya air dari saluran pembuang yang lebih besar ( sungai dan laut) ke saluran pembuang yang lebih kecil
Pompa :
Adalah alat untuk menaikkan air sampai elevasi yang diperlukan secara mekanisme hidraulis melalui sistem pipa
Rencana tata tanaman:
Adalah pengaturan pembagian areal yang akan ditanami beberapa jenis tanaman tertentu pada suatu daerah irigasi, berdasarkan tersedianya air pada waktu tertentu pula,Rencana Tata Tanam (tahun yang sedang berjalan) yang telah disyahkan Panitia Irigasi Terdiri dari :
- Masa Tanam(MT)I: Rencana tanam ke 1 pada musim penghujan
- Masa Tanam (MT) II: Rencana tanam ke 2 pada musim kemarau
- Masa Tanam (MT)III: Rencana tanam ke 3 pada musim kemarau
(Bagi Propinsi yang pola tanamnya hanya dua kali masa tanam, maka untuk pengisian lembar koreksi harus disesuaikan Masa Tanamnya terlebih dahulu)
Saluran Tersier penerima yang dibawah pengelolaan PU Pengairan:
Adalah sepanjang 50 m dari bangunan sadap atau sampai dengan box tersier yang pertama:
Saluran Gendong (Saluran pembuang samping):
Adalah Saluran pembuang terbuka yang berfungsi mengalirkan aliran buangan yang mengalir paralel disebelah atas saluran pembawa
Saluran Pembuang :
Adalah saluran yang berfungsi membuang kelebihan air. saluran Pembuang yang inventarisasi adalah saluran pembuang buatan dan saluran pembuang alam sekunder
Saluran Primer :
Adalah saluran yang membawa air dari bangunan utama ke saluran sekunder dan petak-petak tersier diairi. Batas ujung saluramn primer adalah bangunan bagi yang terakhir
Saluran Suplesi :
Adalah saluran yang berfungsi membawa/mengalirkan air yang disuplesikan kesaluran pembawa atau ke sungai
Saluran Suplesi yang Diinventarisasikan :
Adalah saluran yang suplesi yang resmi atau saluran suplesi yang dibangun berdasarkan design
Saluran tersier :
Adalah saluran yang membawa air dari bangunan sadap tersier kedalam petak tersier
Sawah :
Adalah lahan usaha tani yang secara fisik rata dan mempunyai pematang serta ditanami padi dengan sistem genangan
Sawah Belum Irigasi (Luas Sawah Belum Fungsional) :
Adalah Sawah yang belum mendapatkan air dari Jaringan Irigasi, tetapi di kemudian hari dapat dijadikan sawah irigasi
Sawah Irigasi (Luas Sawah Fungsionil) :
Adalah sawah yang merupakan bagian dari luas potensial yang sumber airnya berasal dari saluran melalui sistem jaringan irigasi melalui sistem jaringan irigasi. Kolom tambak ikan yang mengambil air dari saluran irigasi adalah merupakan bagian dari luas sawah irigasi pada areal potensial. Khusus mengenai kolam ikan, ranting Dinas agar mencatatnya
Siphon :
Adalah bangunan air yang dipakai untuk mengalirkan air irigasi dengan menggunakan grafitasi melalui bagian bawah saluran pembuang, cekung, anak sungai atau sungai. Siphon juga dipakai untuk melewati air di bawah jalan-jalan kereta api atau bangunan-bangunan yang lain. Siphon merupakan saluran tutup yang direncanakan untuk mengalirkan air secara penuh dan sangat dipengaruhi oleh tinggi tekan.
sungai :
Adalah Sistem pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi pada kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan
Talang :
Adalah Bangunan air yang dipakai untuk mengalirkan air irigasi yang lewat di atas saluran lainnya, sungai atau cekungan, lembah-lembah dan jalan. Aliran di dalam talang adalah aliran bebas
Tata Pengairan :
Adalah Susunan dan letak sumber-sumber air dan atau bangunan-bangunan pengairan menurut ketentuan teknik pembinaannua di suatu wilayah pengairan tertentu
Tata Air :
Adalah susunan dan letak air, yaitu semua air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari sumber-sumber air, baik yagn terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah (tidak termasuk dalam pengertian ini air terdapat di laut)
Terowongan :
Adalah saluran yang membawa air menembus bukit-bukit dan medan yang tinggi, yang pada tempat-tempat tertentu diperkuat dengan pasangan, Aliran di dalam terowongan adalah aliran bebas
Tingkatan Jaringan Irigasi :
Adalah suatu jaringan irigasi hanya mengenal satu tingkatan sehingga dalam menentukan tingkatan jaringan, berdasarkan tingkatan yang paling dominan
Waduk :
Adalah bangunan untuk menampung air pada waktu terjadi surplus air di sumber air agar dapat dipakai sewaktu-waktu terjadi kekurangan air, sehingga fungsi utama waduk adalah untuk mengatur sumber air. Yang termasuk jenis bangunan ini antara lain adalah:
- Waduk buatan/bendungan
- Waduk lapangan (pengempangan mata air)
- Embung (sejenis waduk kecil di NTB)
- Situ (sejenis waduk kecil di jawa barat)
Wilayah Sungai :
Adalah kesatuan wilayah tata pengairan sebagai hasil pengembangan satu atau lebih daerah pengaliran sungai